Selamat Datang di Website Resmi MAN 2 Merangin # Selamat memasuki bulan Kemerdekaan ..... Agustus meriahhh # Selamat Datang di Website Resmi MAN 2 Merangin, Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia # MAN 2 Merangin luncurkan PTSP sebagai bentuk implementasi pelayanan prima # Kritik dan Saran silahkan kirimkan ke email : [email protected] # Madrasah MAJU, BERMUTU, MENDUNIA

Akademik: Opini Tenaga Pendidik


Opini Tenaga Pendidik

Menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta

Ahmad Tholabi Kharlie — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber: Kemenag RI


Peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) oleh Menteri Agama pada 24 Juli 2025 dipandang penulis sebagai terobosan besar dalam peta pendidikan nasional — sebuah pernyataan komitmen negara untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif dan manusiawi. KBC lahir sebagai jawaban atas krisis zaman yang semakin rumit: bukan hanya disrupsi teknologi, tapi juga gelombang dehumanisasi yang mengikis nilai-nilai luhur, termasuk di ruang-ruang pendidikan itu sendiri.

Cinta sebagai Fondasi Peradaban

Penulis menegaskan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas nilai-nilai yang hidup dalam jiwa manusianya, dan pendidikan adalah rahim dari nilai-nilai itu. KBC menempatkan diri secara strategis dengan menanamkan cinta sejak jenjang Raudhatul Athfal hingga Madrasah Aliyah — bukan menegasikan ilmu dan logika, melainkan menuntut agar keduanya berpijak pada kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama serta alam.

"Humanity is only one" — gagasan yang dijadikan penulis sebagai dasar pemaknaan KBC sebagai wujud kurikuler dari kemanusiaan universal.

Dikutip penulis dari pernyataan Menteri Agama

Pergeseran Paradigma

Poin penting yang disorot adalah pergeseran dari pendekatan nomos-oriented (berbasis aturan dan ketakutan akan dosa) menuju eros-oriented (ibadah sebagai ekspresi cinta). Pergeseran ini sejalan dengan orientasi teologis dari citra Tuhan yang murka (jalaliyah) ke citra Tuhan yang penyayang (jamaliyah), yang pada akhirnya melahirkan praktik pendidikan humanistik: madrasah yang ramah anak dan guru sebagai figur empatik.

Secara struktural, KBC dijabarkan dalam lima tema pokok yang disebut "Pancacinta":

  • Cinta Allah & Rasul — landasan spiritual utama
  • Cinta Ilmu — semangat belajar sepanjang hayat
  • Cinta Lingkungan — kepedulian ekologis nyata
  • Cinta Diri & Sesama — empati dan penghormatan
  • Cinta Tanah Air — kesadaran kebangsaan

Dalam KBC, setiap nilai diterjemahkan ke pembelajaran nyata — misalnya kepedulian lingkungan diajarkan bukan lewat ceramah ekologi semata, melainkan lewat praktik langsung: menanam, memilah sampah, dan menghemat energi. Pendidikan pun tak lagi diukur dari jumlah hafalan, tapi dari sejauh mana nilai-nilai cinta itu hidup dalam laku sehari-hari.

Tantangan Implementasi

Penulis jujur mengakui bahwa perubahan sebesar ini tidak lepas dari hambatan nyata di lapangan:

  1. Resistensi Kultural — sebagian pendidik dan birokrat yang terbiasa dengan pola pikir instruksional cenderung menganggap pendekatan cinta "terlalu lembut" atau "tidak realistis".
  2. Risiko Reduksi Implementatif — KBC berpotensi disederhanakan sekadar menjadi program tambahan atau "tema mingguan", alih-alih menjadi ruh dari seluruh desain pembelajaran dan evaluasi.
  3. Kesiapan Sumber Daya Manusia — mengajar dengan cinta menuntut kedewasaan emosional dan spiritual guru, sehingga pelatihan dan pendampingan intensif menjadi kebutuhan mendesak.

Penulis menutup opininya dengan menyerukan agar para pendidik dan pemangku kebijakan menjaga "bara cinta" itu tetap menyala — baik di dalam kelas, di hati murid, maupun dalam kehidupan berbangsa.


Opini · Kementerian Agama RI — baca sumber asli


Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MAN 2 Merangin

Mars Madrasah